Nyetir Sendiri, JAKARTA-BALI-BATU-SALATIGA (1)

Nyetir Sendiri, JAKARTA-BALI-BATU-SALATIGA (1)

Sesuai judul, ini pengalaman pertama saya benar-benar nyetir jauh. Total perjalanan yang saya tempuh adalah sejauh 3.016 km (hasil cek speedometer). Perjalanan pertama, dari Jakarta ke Bali (hotel), 1184 km, lalu perjalanan muter-muter Bali lima hari (sekitar 600km), perjalanan Bali-Batu (411 km), Batu-Salatiga (286 km), dan terakhir Salatiga-Jakarta via Temanggung (534 km). Perkiraan km yang ini didapat dari Googlemaps.

Rencana perjalanan ini sangat mendadak, sebenarnya. Anak sulung saya (13 th) mengikuti kompetisi bola basket KU-13 di Denpasar bersama klubnya, Indonesia Muda (IM) Jakarta. Tiket PP Jakarta-Bali dan akomodasi sudah all set, dan dia berangkat tanggal 17 Desember. Karena ngebet pengen nonton juga, tergiur dengan Bali, dan tertantang untuk upgrade jam nyetir, akhirnya jadilah kami sekeluarga (minus si sulung) menyusul via jalan darat. Menyusul waktu sampainya sih, karena berangkatnya mah duluan.

OK, dimulai dari perencanaan. Seperti pada umumnya, saya dan istri membuat dua rencana: (1) rencana perjalanan, termasuk booking penginapan; dan (2) rencana anggaran.

Rencana perjalanan kami adalah sebagai berikut:

  1. Hari 1-2 (16-17 Desember 2016): perjalanan Jakarta-Bali
  2. Hari 3-7 (18-22 Desember 2016): perjalanan dalam kota Bali
  3. Hari 8 (23 Desember 2016): perjalanan Bali – Batu, Malang
  4. Hari 9 (24 Desember 206): perjalanan Batu – Salatiga
  5. Hari 10 (25 Desember 2016): perjalanan pulang Salatiga – Jakarta

Untuk anggaran, kami merencanakan beberapa pos pengeluaran, yakni: (1) penginapan [2 penginapan di Bali, 1 di Malang (tapi tidak terlaksana), 1 di Batu, dan 1 lagi di Salatiga]; (2) bahan bakar: kami kebetulan pake mobil diesel berbahan bakar solar. Bio solar tepatnya, yang paling murah; (3) ferry dan toll; (4) makan; (5) bekal-bekal perjalanan dan pengeluaran lain-lain; dan (6) tiket/akses masuk objek wisata.

Dana yang kami rencanakan dan aktual alokasinya ternyata tidak terlalu meleset. Selama 10 hari perjalanan tersebut, kami menghabiskan total dana sebesar 10 juta kurang sedikit (dari rencana 11 jutaan). Penghematan terbesar sepertinya berasal dari ‘bawa kompor’, perbekalan makanan, dan traktiran temen-temen. Jadinya hemat makan dan jajan. Cerita berikutnya akan menunjukkan, waktu tempuh bisa ‘dihemat’ juga. Nah, kalo ini, gara-garanya adalah faktor kalap pengen cepet sampe dan excitement di perjalanan buat saya yang memang hobi nyetir.

PERJALANAN 1: JAKARTA – BALI (16-17 Desember 2016)

Perjalanan dari rumah kami di Jurang Mangu (masuk Tangsel, sih, bukan Jakarta :P) ke hotel pertama di Bali True Living Apartment, Denpasar (5,7 km dari Pantai Kuta Bali), total ditempuh selama kurang lebih 1 ½ hari. Tepatnya 38,5 jam. Kami berangkat Jumat jam 02.00 dinihari, tiba Sabtu keesokan harinya jam 16.30. Lebih cepat 3 jam dari rencana. Jika dikurangi waktu istirahat-makan, waktu error di perjalanan, dan waktu-waktu lainnya yang dihabiskan di luar jalur Pantura, total perjalanan kami kurang lebih 26 jam. Saya hanya tidur 5 jam selama perjalanan Jakarta-Bali, namun cukup terkompensasi oleh 9 jam tidur sesampainya di hotel. Rasanya sih, begitu, karena besoknya, alhamduliLlah, gak gitu terasa lelah. Iya, soalnya saya terus tidur lagi…. Hehehe.

Total biaya perjalanan 1 kami adalah sekitar Rp1,6 jutaan. Rincian biayanya sebagai berikut:

  1. Bensin sekitar 133 lt = Rp686 ribu (harga biosolar Rp5.150). Tentunya bensin ini masih nyisa untuk perjalanan berikutnya. Saya selalu mengupayakan isi penuh bensin saat fuel meter sudah sampai di tengah-tengah. Biasanya waktunya juga klop dengan jadwal pipis keluarga selama perjalanan.
  2. Feri Ketapang-Gilimanuk = Rp138 ribu net.
  3. Tol = Rp194 ribu. Mestinya bisa lebih murah beberapa ribu rupiah jika kami tidak salah keluar tol dua kali di Surabaya. Tapi tidak apa-apa, ini masih lebih murah dari Rp250 ribu yang kami anggarkan.
  4. Biaya makan = Rp269 ribu. Sarapan pagi kami selalu berbekal kompor dan bahan makanan dari rumah.
  5. Biaya perbekalan dan lain-lain = Rp 500 rb (include harga kompor, gas, popmie, roti, snack, dll.)

Saya full mengambil jalur Pantura untuk sampai ke Bali, tidak menclok ke tengah, apa lagi ke selatan, dengan rincian perjalanan sebagai berikut:

  • Jam 02.00 – 10.45: Jurang Mangu – Bekasi – Semarang
    • 02.00 – 04.05: Jurang Mangu – Rest Area Tol Cipali Km 86.1.

      Perjalanan dinihari lumayan lancar. Saya masih fresh. Di rest area saya hanya menyempatkan diri untuk shalat, dan belum merasa perlu untuk istirahat lebih lama. Jam 04.30, perjalanan dilanjutkan.

    • 04.30 – 07.00: Cipali – Pemalang

      122716_1645_NyetirSendi2.pngPalimanan-Cirebon-Kanci-Pejagan-Brebes exit serta kota Tegal sudah terlewati. Saya mengupayakan rehat setiap 3 jam sekali. Rencananya, lho.

      Rehat ronde pertama adalah di pinggir jalan, depan mushala kota Pemalang. Kami gelar tiker, bongkar kompor, masak air, dan makan Popmie merk Mie Sedap. Saat itu jam 07.15. Rencana tidur 1 ½ jam diringkas jadi 5 menit merem melek karena masih berasa semangat. Jadinya, jam 07.45 saya sudah tancap gas lagi.

    • 07.45 – 10.45: Pemalang – Pekalongan – Semarang

      122716_1645_NyetirSendi3.jpgSejak keluar dari Tol Brebes (Brexit), saya mulai sering memposisikan kendaraan di sisi kiri jalan. Tekstur jalan di sebelah kanan/tengah umumnya bergelombang, bekas dilalui roda-roda raksasa truk-bis, dan mungkin juga ditambah genangan air hujan.

      Bis dan truk di area ini sepertinya memang memiliki pakem berkendara di sisi kanan jalan, tidak seperti di jalan biasa atau tol. Kondisi ini terus berlanjut sampai jalur Pantura di Jawa Timur. Bedanya, di Jawa Timur, posisi kendaraan saya bukan lagi sekedar di kiri, tapi di jalur khusus motor yang lebih mirip seperti bahu jalan tol. Karena bis-truk relatif konsisten ada di tengah dan motor-motor juga tidak terlalu banyak, di ‘bahu jalan’ ini rata-rata saya masih bisa melaju dengan kecepatan 60-100 km/jam.

  • Jam 10.45 – 18.19: Semarang – Tuban
    • 10.45 – 12.20: Semarang

      Memasuki Semarang di jam-jam ini rupanya kurang menyenangkan. Sudah terik dan macet, tidak ada pemandangan yang menarik pula. Gersang. Kami tidak memasuki Semarang kota, karena istiqamah di jalur Pantura. Akhirnya untuk makan siang, kami pun mencari rumah makan murah meriah di jalur Semarang menuju Demak. AlhamduliLlah, tidak sampai Rp80 ribu saya keluarkan untuk makan siang berempat hingga kenyang.

    • 12.20 – 13.30: Semarang – Kudus

      Setelah makan siang, rencana berikutnya adalah meninggalkan macet dan gersang Kab. Semarang sesegera mungkin. Awalnya sih hendak shalat dan istirahat di Masjid Agung Demak, tapi karena jalur Pantura tiba-tiba membelokkan kami dari jalur ke sana, persinggahan kami berikutnya jadinya adalah masjid kecil di area pom bensin kota Kudus. Memejamkan mata agak lama juga, pada akhirnya, for the first time. Tapi tidak sampai sejam, dorongan melanjutkan perjalanan membangunkan saya kembali. Back to driving. Asik.

    • 14.45 – 18.19: Kudus – Tuban

      Perjalanan Kudus – Tuban kami sedikit terhambat. Menjelang keluar dari kota Pati, tiba-tiba masuk telepon dari kawan di Bandung (yang sebenarnya hampir tak pernah kontak). Rupanya ada yang mengabarinya bahwa dompet saya tertinggal di mushala pom bensin di Kudus. Inna liLlahi… Si penemu dompet sepertinya hanya menemukan nomor HP teman saya itu di ribuan (wekkk, lebayyy) kartu nama yang ada di dompet. AlhamduliLlah, pertolongan Allah. Meski trade-off waktu, dompet gak jadi hilang itu sesuatu banget. Yekan?

      Setelah putar balik ke Kudus, mengambil dompet (dengan sopan, tertib, dan senyum selebar pisang), kami lanjutkan perjalanan. 122716_1645_NyetirSendi5.jpgKeluar sekali lagi dari Pati, mobil terus saya pacu. Memasuki kota Rembang dan Lasem, beberapa kali kami menyusuri laut indah di pinggir kiri jalan, menemukan beberapa perahu nelayan yang manteng di dermaga.

      Hingga akhirnya…. Wowwwww, Jawa Timur! Kami memasuki kota Tuban, saudara-saudara. Sama sekali tidak terbayangkan bisa nyetir sejauh ini. Senangnya, meski baru lewat sepertiga perjalanan. Masih ada satu hari perjalanan lagi. Sabar… Orang sabar disampein ke Bali. 😛

      122716_1645_NyetirSendi4.jpg

  • Jam 18.19 – 01.00: Tuban – Pasuruan
    • 18.19 – 19.09: Tuban – Lamongan

      Tidak ada yang ditunggu-tunggu di Lamongan selain makan Soto Lamongan dengan koya yang halal ditaburkan seluas mata memandang mangkok soto. Limitnya cuman volume toples.

      Memasuki Lamongan, hasil googling membelokkan kami untuk masuk sampai ke alun-alun kota Lamongan. Agak macet, karena kebetulan rakyat Lamongan sedang mengalir masuk kota sehabis menonton tim Persela tanding. Begitu sampai dalam kota, hasil googling rupanya mengarahkan kami ke warung-warung soto yang sudah tutup. Nasib.

      Beruntung, googling results tidak hanya selebar daun kelor. Masih ada warung soto rujukan lagi. Untuk sampai di sana, kita keluar dari alun-alun kota Lamongan. Menuju jalur Pantura lagi… What? Kalo tahu sotonya ada di jalur Pantura juga, lalu ngapain kita…? Ah, sudahlah. Pening, linglung, lapar, dan muter-muterin jalan ternyata menambah kenikmatan (soto) jadi jauh lebih nikmat lagi. Sedap.

    • 21.00 – 21.45: Lamongan – Surabaya

      Di rute ini saya mulai sulit konsen. Antara karena kekenyangan, kelelahan, ngantuk, atau kombinasi semuanya. Dari mulai excited saat Mbah Google mengarahkan perjalanan ke tol, ‘mengabaikan’ kota Gresik dan Surabaya, sampai akhirnya geram-geram linglung karena di area kota Surabaya saya malah dua kali salah jalan dan dua kali pula keluar masuk pintu tol. Saya pun menyerah setelah sejam lebih berikhtiar….

      Jam 22.45, saya takluk dan masuk kota Surabaya. Bergegas masuk pom bensin, saya merem lagi. Merem panjang yang kedua harusnya, tapi sekali lagi saya hanya ‘bertahan’ tidur satu jam. Tepat jam 12 malam, saya bangun dan memutuskan nyetir lagi.

    • 00.00 – 01.00: Surabaya – Pasuruan

      Benar-benar sendiri saat ini. Istri saya sudah kurang enak badan dari sejak di Lamongan. Mungkin dia lelah. Ahay…

      Hanya ada sedikit cerita genangan air di rute ini. Di beberapa bagian jalan, kami perlu sedikit melambat karena antrian kendaraan yang coba melewati air yang agak tinggi di atas jalan. Entah air ini berasal dari hujan atau pun luapan air laut, saya tidak tahu. Perlu agak berhati-hati juga di sini, karena genangan air terkadang muncul tiba-tiba di hadapan. Saat melaju cepat atau hendak menyalip, ‘byur’ genangan air bisa menutupi kaca mobil dan pandangan mata.

  • Jam 01.00 – 09.30: Pasuruan – Gilimanuk
    • 01.00 – 02.16: Pasuruan – Probolinggo

      Saya sudah mulai lelah. Tengah malam, tidak ada pemandangan alam atau hiburan anak-istri yang bisa menggugah energi dan semangat saya. Probolinggo, di pom bensin lagi, jadi tempat tidur ketiga saya selama perjalanan. Setelah sebelum-sebelumnya cuma tidur 45-60 menit, di sini saya benar-benar tertidur pulas selama dua jam hingga akhirnya adzan shubuh di masjid sekitar pom bensin membangunkan. AlhamduliLlah, tidur yang cukup berkualitas. Nggak banyak melamun dulu seperti bobo biasanya, langsung tidur aja. Ringkas dan efisien. Selepas shalat shubuh, jam 04.30, saya lanjutkan perjalanan.

    • 04.30 – 09.30: Probolinggo – Ketapang, Banyuwangi

      Saya merasa perlu untuk mengupayakan 1-2 jam perjalanan terakhir di Banyuwangi dilakukan di pagi hari. Alasannya karena konon, kabarnya, kawasan hutan Baluran masih rawan ‘bajing luncat’ (meski informan yang telat saya dapatkan beberapa hari kemudian membantah).

      Setelah sarapan roti sebentar di pinggiran jalan Situbondo, Hutan Baluran saya lalui selama 30-40 menit bersama istri yang sudah sehat dan anak-anak yang melek lagi di pagi hari. Sejauh ini, nyetir pagi melewati hutan dengan kawanan keluarga monyet di Baluran menjadi momen perjalanan paling memukau. Bukan, bukan karena monyetnya. Ehm…. Iya, deh, monyetnya juga, tapi yang terutama adalah hijau pepohonan tinggi dan lebat di sepanjang perjalanan yang lengang, lega, dan cukup panjang. Tuh, monyetnya berhasil difoto (foto di atas) oleh istri. Sayang, yang keambil gambarnya cuma dua ekor. “Maaf ya, Nyet….” Eh.

    • 09.30 – 10.30 (=11.30 WITA): Ketapang – Gilimanuk (Feri)

      122716_1645_NyetirSendi7.jpgKami masuk Pelabuhan Ketapang jam 09.30. Tidak terlalu banyak kendaraan yang diangkut feri saat itu. Mobil-mobil sudah diarahkan dari sejak pintu masuk pelabuhan oleh petugas. Hanya dokumen SIM dan STNK yang perlu dipersiapkan selain uang masuk mobil (Rp138 ribu) ke dalam feri. Feri pengangkut jalur ini beroperasi setiap jam, 24 jam. Feri yang kami tumpangi mulai menyeberangi Selat Bali pada pukul 10.00 tepat. Tiga puluh menit perjalanan di dalam feri saya manfaatkan untuk tidur cantik.

  • Jam 11.30 – 16.30: Gilimanuk – Bali True Living Apartment, Denpasar
    • Waktu Bali sejam lebih awal dari di Jawa. Tibanya feri jam 10.30 WIB sama dengan jam 11.30 WITA, waktu di Bali. Setelah Baluran, jalanan dari Gilimanuk ke Denpasar benar-benar unreal bagi saya. Pohon-pohon yang merunduk di kanan-kiri jalan, terasering pesawahan, lautan biru, dan rumah berseni dari penduduk Bali menjadi kombinasi pas dan indah buat dinikmati mata yang kadung lelah ini. Sedikit distraksi mungkin muncul karena banyak truk yang bergerak lambat dan sulit disusul, serta pemeriksaan kelengkapan STNK, SIM, dan KTP yang menghadang sampai 3x (dari semenjak hendak keluar Pelabuhan Gilimanuk). Meski demikian, itu semua jadi terasa tidak signifikan.  Apesnya, tidak ada satu pun foto perjalanan Gilimanuk-Nagara-Denpasar yang kami abadikan. Lebih enak lihat langsung, sih. (Ini excuse…. Hehehe)img_20161217_210737
    • Setelah sempat makan siang di RM Muslim Jawa Timur di kawasan Nagara, kami sudah sampai di Denpasar jam 15.30 sore. Karena terlalu dekil, terpaksa saya melipir ke tempat cuci mobil robot. Banyak bekas-bekas cipratan (mirip lem, kata yang nyuci mobil), sepertinya dari lendir ribuan binatang malam (nyamuk?) yang keseruduk mobil di Tol Cipali, bercampur dengan cipratan air dan campuran debu di sepanjangan perjalanan. Meski tidak terlalu cakap membersihkan noda-noda ‘bandel’ di mobil, kami bisa tiba di hotel pertama dengan tampilan mobil yang tak terlalu jijik dipandang. Penampakan hotelnya ada di foto di atas. Untuk harga net Rp263 ribu per hari, not bad, kan? Malah excellent, walau memang tak ada kolam renang dan breakfast. But who cares…
    • Well, perjalanan pertama SELESAI. AlhamduliLlah, sehat dan selamat. SubhanaLlah, perjalanan dan alam yang luar biasa indah.

BERSAMBUNG ke Catatan Perjalanan kedua: Di Bali….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s