Nyetir Sendiri, JAKARTA-BALI-BATU-SALATIGA (2)

Nyetir Sendiri, JAKARTA-BALI-BATU-SALATIGA (2)

PERJALANAN 2: DALAM KOTA BALI (18 – 22 Desember 2016)

Saya mengusahakan cepat sampai di Bali. Tidak mampir-mampir, fokus, karena target wisatanya adalah Bali serta Batu, Malang, pas pulangnya nanti.

Sesampainya di Bali tanggal 17 Desember sore, kami menginap di Bali True Living Apartment. Rencananya, setelah check in tanggal 17, kami check out tanggal 20 dan berganti hotel ke Umah Bali Suites and Residence’s Hotel yang lebih dekat ke GOR Merpati, tempat anak saya tanding basket. Alasan pindahnya bukan karena mendekat ke GOR sih, tapi lebih ke ongkos. Lewat tanggal 20, tidak ada diskon 60% lagi dari Traveloka. Ngirit, kawan. Dengan anggaran terbatas, kami juga hanya memprioritaskan kenyamanan kamar dan parkir, tidak peduli pada breakfast atau fasilitas hotel lainnya.

Untuk perjalanan dalam kota Bali, pengeluaran terbesar jelas bersumber dari penginapan. Wajar, karena kami menginap selama lima hari. Tiket masuk objek-objek wisata di Bali, bisa dibilang cukup murah. Total, di dalam kota Bali, kami menghabiskan dana sekitar Rp4 juta. Perinciannya sebagai berikut:

  • Penginapan 5 hari = Rp1,24 juta
    • hotel pertama, 3 hari x 236.664 = Rp715 ribu
    • hotel kedua, 2 hari x 257.770 = Rp521 ribu
  • Bensin hampir 80 liter = Rp401 ribu
  • Makan selama 5 hari 5 malam = Rp881 ribu
  • Biaya perbekalan dan lain-lain = sekitar Rp1 jutaan (termasuk untuk oleh-oleh)
  • Tiket masuk objek wisata = Rp531 ribu (total 8 objek wisata)

HARI I: Minggu, 18 Desember 2016

[Hotel – GOR Merpati – Hotel]

Mengingat kami baru sampai sore hari sebelumnya, fokus hari ini adalah pemulihan. Istri beres-beres, seperti baru pindahan, lalu uji coba masak Indomie. Hey, that’s too easy! Ehm, masak nasi, deh, sama goreng telor. Difficulty level-nya sedikit lebih tinggi. Dapet ‘nyawa’ kalo berhasil. Anak-anak (tanpa si sulung), antara kasur dan sofa, memforsir baterai iPad dan HP serta channel TV kabel.

Aktivitas perjalanan baru dimulai jam 14.30 Waktu Bali, eh WITA. Acara hari ini hanya nonton pertandingan pertama si sulung, Dhifie, dan timnya, IM KU-13 melawan Klub Kijang dari Klungkung Bali. Setengah jam waktu yang kami butuhkan untuk sampai ke GOR Merpati di daerah Ubung Kaja dari hotel kami di daerah Imam Bonjol, selatan kota Denpasar. Pertandingannya sendiri tidak terlalu berimbang. IM Jakarta unggul jauh 54-17.

Saatnya pulang. Kami mencari rumah makan halal untuk makan malam di sepanjang jalur pulang (lurus ke selatan jika dilihat di peta): Jalan Cargo Permai (Ubung) – Buluh Indah – Mahendradatta – Gn.Soputan – Imam Bonjol.

Di sebelah kiri Jl. Mahendradatta, kami menemukan franchise lokal yang tidak asing. RM Bebek Slamet Kertosuro. Dibandingkan Bebek Slamet-Bebek Slamet lain yang kami pernah kunjungi di Jakarta, Depok, Bogor, Bandung (wih, demen…), di Denpasar ini rumah makannya terlihat modern seperti kafe-kafe di Jakarta. Area masak langsung terlihat di sebelah kiri depan dengan etalase seperti saat kita hendak pesan udon di Marugame. Kita bisa memilih tempat makan di area depan atau di bagian belakang yang sama-sama nyaman dan luas. Sejauh pengalaman saya makan di Bebek Slamet, Bebek Slamet di Denpasar ini yang paling mantap. Tempat oke, menu lengkap, rasa juga pas. Meski franchise, takaran garam dan MSG kan kadang suka beda, apa lagi di franchise lokal.

Sebelum sampai penginapan, kami menyempatkan beli amunisi makanan dan snack di Soputan Mart. Buah-buahan, sayur, lauk, tolak angin, dan air minum, yang utama, supaya tetap fit. Lebih hemat daripada makan di rumah makan. O ya, nama Mart-nya adalah Soputan Mart. Aneh juga, selama di Denpasar kami tidak menemukan Alfa atau Indomart sama sekali yang kalau di daerah lain biasanya muncul di setiap radius 2 km atau kurang.

HARI II: Senin, 19 Desember 2016

[Hotel – Ubud – Danau Batur Kintamani – Pura Agung Besakih – Hotel – GOR Merpati – Hotel Aston – Jimbaran – Hotel]

  • 07.00 – 08.00: Di Ubud, bingung

    Jadwal pertandingan Dhifie hari ini sore jam 15.00. Memanfaatkan waktu yang ada, jam 06.00 kami sudah bergegas keluar hotel. Target perjalanan hari ini adalah ke timur laut Denpasar (miring arah kanan atas kalo di peta). Dimulai dengan Ubud Village.

    Jarak sejauh 30 km ke Ubud kami tempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. Namun sampai di wilayah Ubud jam 07.00, kami, tepatnya saya, mulai kebingungan. Bukan kurang Aqua, tapi kurang googling. Ada apa di Ubud? Saya tidak meniatkan diri ke Monkey Forrest atau ke toko-toko berseni tinggi di sana. Niat saya adalah ke pedesaan Ubud. Mau lihat terasering pesawahan, geliat aktivitas pagi hari penduduk desa, rombongan ternak dan gembalanya, serta rumah-rumah khas Bali di pedesaan. Ubud Village, itu yang saya cari. Sayangnya, sesudah membayangkan hal-hal tadi, begitu sampai, barulah ketahuan. Ada proses googling yang kurang cermat.

    Ubud Village ternyata nama hotel, sodara-sodara. Pas googling luput, Hotel-nya tidak terbaca. Duh, cerdasnya….

    Kecewa, dikit. Meski demikian, Bali tidak membiarkan saya larut dalam kekecewaan. Sepanjang perjalanan, meski mobil terus melaju, impresi saya akan Bali yang unreal tidak pernah luntur. Ubud sangat artistik, indah, dan tenang. Menikmati perjalanan. Inilah yang saya rasakan. Tanpa mematikan mesin mobil, tanpa menepi, dan tanpa foto-foto (iya lah, gimana caranya nyetir sambil moto?), nikmatnya tuh ada di sini (sambil nunjuk ke sini, kayak Cita Citata. Iya, di sini. Gak bingung, kan?). SubhanaLlah.

  • 09.02 – 09.15: Sampai di Danau Batur Kintamani?

    Melanjutkan perjalanan terus ke arah kanan atas peta, target berikutnya adalah Danau Batur di Kintamani. Jarak dari Ubud ke Danu Batur hampir 40 km. Perlu satu jam lagi untuk sampai di sana. Sekali lagi, kami dimanjakan dengan pemandangan indah dan udara sejuk sepanjang perjalanan. Terasering Beras Tegalalang, berupa sawah-sawah yang berundak-undak dan meliuk-liuk rapi, kami lalui hanya beberapa menit selepas dari Ubud. Jam 09.02, kami sampai di salah satu puncak bukit daerah Kintamani. Danau Batur sudah terlihat dari sini, luas, biru, dan dikelilingi gunung atau bukit-bukti yang tinggi. Megah sekali. Kami sempat mengabadikan beberapa foto Danau Batur dari atas. Hanya sedikit, karena kami pikir, toh sebentar lagi mestinya danaunya akan kami datangi.

    Di sinilah masalahnya mulai muncul. Tanpa terantisipasi, GPS dan sinyal di handphone mulai error. Peta dan posisi mobil saya berputar-putar tidak karuan. Kartu Simpati, sebagai backup kartu Indosat saya, sami mawon tidak membantu. Jalanan yang lengang, hampir-hampir tanpa orang dan kendaraan lewat, membuat saya terus berkendaraan tanpa bertanya. Terlebih juga, di jalannya hanya ada persimpangan-persimpangan kecil. Selama masih di jalur utama, saya pikir akan baik-baik saja, minimal sampai GPS normal kembali.

    Akhirnya, memang GPS kembali normal, meski tersendat-sendat, tapi posisi saya sudah di Bangli, arah selatan dari Danau Batur. Ini sudah di posisi balik! Baru pas menulis sekarang saya paham, rupanya ada satu jalan ke kiri sebelum persimpangan yang saya lewatkan. Di posisi balik ini, jarak ke Pura Agung Besakih (target berikutnya) dan putar balik ke Danau Batur tidak jauh berbeda. Karena khawatir waktunya mepet ke jam pertandingan, akhirnya kami pun memutuskan melewatkan Danau Batur dan menuju ke Besakih. Keluh.

    Sampai pulang dari Bali, mungkin cuma Danau Batur ini yang saya masih penasaran untuk kunjungi lagi. Jalan pegunungan yang beraspal sempurna, pura dan rumah adat yang bersanding harmonis dengan pepohonan di pinggir jalan, ditambah dengan hawa dingin yang makin langka, kapan lagi. Iya, kapan, ya?

  • 10.30 – 11.45: Harus sampai di Pura Agung Besakih

    Di perjalanan kali ini, saya lebih serius memerhatikan peta. Tak peduli sinyal GPS hilang, saya konsentrasi untuk selalu sadar posisi dan arah. Begitulah, saat serius berjaga-jaga, GPS pun lancar jaya. Lucunya hidup ini.

    Jarak perjalanan yang kurang dari 30 km ke Besakih kami tempuh dalam waktu satu seperempat jam. Jalannya berkelok-kelok dan naik, tapi tetap menyejukkan mata. Sampai jalur masuk pura, kami dipungut biaya hanya 10 ribu rupiah per mobil. Jelang masuk pura sebenarnya saya tahu, kain yang harus dipakai saat memasuki pura bisa dipinjam dan guide juga tak wajib disewa. Tapi pada prakteknya, kain kami beli sekalian buat oleh-oleh. Guide pun disewa, tapi ini tanpa alasan yang jelas, antara males ribut/debat dengan guide yang ‘mengasongkan’ diri dan motif membantu organisasi setempat (seperti diucapkan si guide). Yang pasti, 100 ribu perak keluar untuk bayar guide, 10 ribu untuk sewa payung, dan sekian ribu untuk beli kain (berhubung oleh-oleh, harga disamarkan… Mohon maklum. Hehe.)

    Memasuki kawasan pura, guide yang kami sewa pada hakikatnya berperan sebagai juru foto keluarga. Tidak ada cerita sejarah, deskripsi detil bangunan, atau pun penjelasan terperinci mengenai aktivitas pemeluk Hindu saat ini dan terdahulu selama di pura. Informasi yang saya terima hanya, “Di sana pura Dewa Syiwa, di situ Brahmana, di sebelah sini Wishnu…. Orang Hindu sembahyang di sana, kalo pengunjung mau ikutan sembahyang juga ada di sebelah sini.” Informasi papan petunjuk. Selepas itu, guide pun lebih lincah berjalan di tengah hujan dengan posisi di depan kami. Sesaat di beberapa tempat dia akan berhenti, lalu menawarkan diri, “Di sini bagus nih, buat foto. Sini hadphone-nya, Pak, biar saya fotokan….”

    Hujan deras menemani perjalanan kami mengitari pura terbesar di Bali ini. Kabarnya, beberapa hari terakhir ini, Pura Besakih memang hampir setiap hari diguyur hujan. Kami bersusah payah untuk berjalan, menghindari basah yang pada akhirnya tetap tak bisa dihindari, dan juga untuk berfoto. Walau demikian, berjalan di bawah hujan mengitari pura, berpayung berdua, naik turun tangga, menimbulkan satu kesan. Romantis. Ini istri saya yang bilang. Uniknya, setelah tuntas mengitari pura, guide selesai dibayar, dan kami bergerak keluar pura, hujan pun reda sereda-redanya. Wow. Ada Apa Dengan Hujan (AADH)?

  • 13.30 – 20.30: Kembali ke ‘peradaban’

    Dari Besakih, kami bergerak ke barat daya Bali, mendekati bibir pantai, lalu selama beberapa kilometer menyaksikan Selat Badung (yang memisahkan kawasan Nusa Penida dengan kawasan lainnya di Bali) di sebelah kiri jalan, hingga kemudian memasuki jalan By Pass Ngurah Rai menuju Denpasar. Kembali ke hotel sekitar jam 13.30, jarak sejauh hampir 60 km dari Pura Besakih kami tempuh dalam waktu 1 jam 45 menit.

    Selepas istirahat dan makan siang (masak lagi) sejenak di hotel, satu jam kemudian, jam 14.30, kami kembali menuju GOR Merpati. Game kedua antara IM melawan tim tuan rumah, Merpati Denpasar. Kami bertemu lagi dengan orang tua-orang tua sejawat di IM yang sama-sama mendukung anak-anaknya bermain basket, jauh-jauh datang dari Jakarta ke Bali. Karena tak semua orang tua bisa hadir, sebagai pelipur lara dan penghapus tanya mereka, saya suka rela membuat live report pertandingan di WA group. Saya monton basket sambil foto-foto dan ngetik di depan laptop. Jadilah Oom Sambas sesaat…

    AlhamduliLlah, meski sedikit ketat di awal, tak memimpin jauh hingga awal kuarter ketiga, anak-anak IM kembali jadi pemenang. Skornya lumayan telak lagi, 46 untuk IM, 29 Merpati. Yang menarik, foto Dhifie anak kami saat tanding muncul di koran lokal, Bali Post. Berasa jadi keluarga seleb…Ehem.

    Merayakan kemenangan atas tim tuan rumah, tim dan keluarga merencakan makan malam di Jimbaran, tepatnya di Roman Café Fress Grilled. Saya dan keluarga ikut. Karena tim (termasuk Dhifie) dan keluarga lainnya seluruhnya menginap di Hotel Aston, kami pun menyertai dulu ke Aston, menunggu mereka bersiap sebelum berangkat bersama ke Jimbaran secara beriringan.

    Sekitar sejam lebih, rombongan sampai di Jimbaran. Kami makan di depan pantai, menyaksikan deburan ombak yang cukup deras serta diterpa angin malam yang lumayan kencang. Harga m

    akanan relatif standar, seperti restoran-restoran seafood di Jakarta. Tidak terlalu mahal. Rasa makanan juga cukup enak. Menunggu satu jam pun terasa wajar meski mulai masuk angin, karena pesanan disiapkan pas saat kami datang, bukan sebelumnya. Terlepas dari itu semua, sensasi makan dengan bangku memanjang dan saling berhadapan, beramai-ramai, serta di depan pantai, membuat live moment ini jadi istimewa, khususnya buat anak-anak, dan juga buat para orang tua yang menyertai.

HARI III: Selasa, 20 Desember 2016

[Hotel – GOR Merpati – Pantai Pandawa – Pura Uluwatu – Hotel]

Jadwal tanding hari ini di tengah-tengah, siang jam 11.30. Akibatnya, rencana perjalanan kami tidak banyak: pagi ke Pantai Sanur, siang nonton basket, sore ke Pantai Kuta. Jangan salah pilih tempat, lho, kalo mau nikmatin sunrise dan sunset. Best view untuk menikmati matahari terbit ya di Sanur, karena posisi laut ada di sebelah timur Pantai Sanur. Sebaliknya, karena posisi laut di sebelah barat Pantai Kuta, matahari terbenam yang paling cocok dilihat di sini.

Rencana tinggallah rencana.

Pagi hari, tidak ada perjalanan ke Sanur. Angin malam Jimbaran malam sebelumnya agak mengkhawatirkan daya tahan tubuh. Ditambah lagi dengan saya yang bangun dan nonton derby Liverpool vs Everton menjelang subuh, jadinya sampai jam 11, kami cuma tiduran di hotel, baru kemudian check-out dari Bali True Living dan menuju GOR Merpati.

Ini adalah pertandingan basket ketiga IM atau terakhir di penyisihan, sebelum semifinal. IM kali ini melawan Kamboja Jembrana, tim terlemah di group. Setelah menang di dua pertandingan pertama, tiket semifinal sebenarnya sudah dalam genggaman. Hasil terakhir di group hanya akan mengukuhkan status kandidat juara dari IM. Terbukti, IM menang telak, 66-16, margin terbesar sepanjang turnamen, dan menjadi juara grup. Saya di pertandingan ini kembali melakukan live report via WA. Hmmm, asik juga, seperi reporting perjalanan di blog sekarang ini.

Sehabis pertandingan, kami check-in di hotel baru, Umah Bali Suites and Residence’s hotel. Hotelnya memang baru, tapi tidak senyaman yang pertama, meski di hotel ini ada kolam renangnya. Ngebangun sih ngebangun, masa debunya masih nempel di furnitur kamar? Parkiran juga kurang enak karena di luar area hotel dan di tanjakan dengan jalan yang tidak rata. Ah, sudahlah, bayar 258 ribu per malam aja banyak complain, ya? Yah, memang kadang gitu, saya mah, orangnya.

Rencana kami ke Kuta juga gagal. Tim ingin merayakan kembali kesuksesan masuk semifinal dengan berjalan-jalan lagi. Sepertinya sih bukan dalam rangka perayaan, tapi sudah jadi agenda. Masa dikit-dikit perayaan? Apa pun alasannya, kami ikut, lah. Lagi pula, arah Kuta di sore hari hampir selalu macet parah, terutama begitu memasuki jalan Imam Bonjol dan Sunset Road. Ini belum sampai ke Jalan Kuta yang juga macet. Rencana sore ini dua: ke Pantai Pandawa dan ke Pura Uluwatu, tempat pertunjukan Tari Kecak.

  • 15.11 – 16.45: Pantai Pandawa, the New Kuta

    Pantai Pandawa adalah pantai paling selatan di Bali. Jaraknya sekitar 30 km dari hotel kami di Denpasar. Untuk sampai di sana, kami menghabiskan waktu lebih dari sejam perjalanan. Melewati jalan Imam Bonjol dan Sunset Road seperti rute ke Kuta, kami kemudian masuk ke jalan By Pass Ngurah Rai, menyaksikan laut biru nan luas yang mengapit jalanan di kiri dan di kanan. Pemandangan yang luar biasa.

    Setelah sedikit berkelok-kelok melewati jalan yang tidak terlalu besar, sampailah kami di area Pantai Pandawa. Jalanan yang kami lalui adalah bekas gunung kapur yang sudah diratakan dengan tanah. Jadilah kami seperti memasuki terowongan tanpa atap dengan gunung kapur di kedua sisi jalan. Ini keren, beneran. Makin keren lagi begitu Pantai Pandawa dan lautan di depannya mulai terpampang di depan mata kami. Pasirnya berwarna keemasan, lautnya jernih dengan warna biru kehijauan yang bergradasi hingga ke awan biru di atasnya. Kami ternganga kagum. SubhanaLlah, indah sekali, indah dua kali, indah banggget, gelaaa.

    Wajar saja, ada beberapa reviewer di internet yang menyatakan bahwa Pantai Pandawa ini sebentar lagi bakal jadi the new Kuta di Bali. Tak hanya keindahan pantai dan lautnya, ombaknya juga relatif besar, serta akses jalannya lebih mudah dan atraktif. Pengunjung juga, meski banyak, tidak sampai terasa crowded. Masih banyak space lah buat merasakan pantai sebagai area pribadi. Diza dan Dilan bermain pasir, lalu saya dan istri menyertai, menikmati ombak yang menghampiri dan menancapkan kaki-kaki kami ke dalam pasir pantai. Untuk tiket masuk juga sama sekali tidak mahal. Tarif masuk mobil cuma 5 ribu perak, per orang kemudian bayar 4 ribu. Jadi, 21 ribu berempat. Worth it banget, kan? Kesimpulannya, tidak terlalu banyak penyesalan meski saya melewatkan Kuta dalam perjalanan sekarang.

    Saya menikmati pantai bersama keluarga saja, tidak bercampur dengan rombongan tim. Bukan sombong, tapi karena kartu Indosat maupun Simpati kehilangan sinyal saat memasuki Pandawa. Harusnya saya beli back up XL, bukan Simpati, selama di Bali. Lagi, kurang googling. Akibatnya, saya kehilangan kontak dengan rombongan tim. Untungnya, setelah keluar dari area pantai sinyal kembali berangsur normal. Jadi kami tidak ketinggalan lagi saat ke bergerak ke Uluwatu.

  • 17.15 – 19.30: Pura Uluwatu, dari monyet ke Hanoman

    Pura Luhur Uluwatu jaraknya tidak terlalu jauh dari Pantai Pandawa, hanya 16,4 km. Kami bergerak lurus ke barat dan sampai 30 menitan kemudian.

    Sejak dari parkiran, kami sudah disuguhi dengan pemandangan monyet-monyet yang beraksi di atas mobil, di jalan, dan di pohon. Kita harus hati-hati saat merapat dinding atau pepohonan, karena monyet-monyet ini biasa nyomotin barang orang, dari topi, makanan, sampai kacamata. Salah seorang supir taksi yang sedang bersandar di pintu mobilnya tak luput dari kejahilan monyet. Topinya dibawa lari. “Kabur, Nyet….! Eh. Kejar, Pak Supir!”

    Tujuan utama kedatangan kami ke Uluwatu adalah untuk melihat Kecak. Tarifnya lumayan, sih, dibandingkan objek wisata yang lain. Mungkin kunjungan ke Uluwatu ini adalah yang termahal. Tiket masuk Pura Uluwatunya adalah Rp60 ribu berempat (20 ribu dewasa, 10 ribu anak-anak). Untuk nonton Kecak, 85 ribu dewasa, 60 ribu anak-anak (jadi saya bayar 290 ribu). Total, 360 ribu berempat. Worth it? Let’s see.

    Pertunjukan dimulai tepat jam 18.00, masih sekitar 40 menit ke terbenamnya matahari. Udara benar-benar cerah. Matahari masih menyinari area pertunjukan yang didesain berbentuk lingkaran dikelilingi tribun penonton yang berundak-undak ke atas. Di sebelah utara area pertunjukan, terlihat pura yang berdiri anggun di atas bukit terjal dengan lautan berarus deras 100-200 meter di bawahnya. Indah sekali.

    Hingga menjelang pertunjukan dan bahkan saat pertunjukan sudah berlangsung, pengunjung dari manca negara terus mengalir masuk. Setelah pembukaan dari pengarah acara, pertunjukan dimulai dengan masuknya sekitar 60 orang penari Kecak pria yang bertelanjang dada ke dalam lingkaran area pertunjukan. Suara ‘cak, cak, cak’ dari para penari terus terdengar. Ramai sekali. Berturut-turut kemudian muncul para penari utama yang menari dengan kostum khas seperti di pewayangan dan mementaskan cerita Ramayana dalam visualisasi gerakan tari.

    Lalu apa peran para penari kecak? Nah, kalau di Prambanan sendra tarinya diiringi gamelan dan latar benda-benda, di Uluwatu, semua latar tersebut, baik latar suara maupun latar pertunjukan diwakili oleh para penarik kecak. Musiknya di sini, ya ‘cak, cak, cak’ itu. Sementara itu, misalnya, saat Laksmana diceritakan membuat lingkaran pelindung bagi Shinta, yang jadi lingkarannya ya para penarik Kecak itu. Saat Rahwana naik ke atas bukit, bukitnya, lagi-lagi ya para penari Kecak. Beberapa orang, seperti istri saya, menganggap iringan kecak ini lebih hidup dan dinamis dibandingkan bunyi gamelan atau latar berupa benda-benda mati. Saya sendiri, karena tidak terlalu suka tarian, agak terkantuk-kantuk bersama si bungsu.

    Meski begitu, secara keseluruhan, saya angkat topi untuk pertunjukan ini. (Bukan, bukan topi yang diambil si monyet tadi. Ini kiasan aja. Ngerti dong, ah.) Apa lagi saat menuju klimaks pertunjukan, Hanoman yang meloloskan diri dari api – beneran ada api di pertunjukannya, bersamaan dengan itu pula sinar matahari mulai meredup. Jadi kontras, antara nyala api dan meredupnya cahaya di langit. Beberapa orang termasuk saya, berpaling ke kiri sesaat, ke arah barat, menyaksikan dan mengabadikan momen terbenamnya matahari di atas bukit Uluwatu, lalu kembali menyaksikan Hanoman mengimitasi ‘ajian anti api’ Nabi Ibrahim. Cool.

    Tepat sejam pertunjukan berlangsung. Jam 19.30, rombongan tim makan siang di restoran Bakmi di Denpasar, sementara kami sendiri memilih langsung pulang ke hotel. Makan indomie dan baso saja. Penghabisan bekal.

HARI IV: Rabu, 21 Desember 2016

[Hotel – Pantai Sanur – Danau Beratan Bedugul – Tanah Lot – Hotel – GOR Merpati – Hotel]

Seperti pada dua hari pertama, jadwal tanding hari ini kembali ke sore, bahkan lebih sore lagi, yakni jam 16.00, lalu molor ke jam 17.30 karena panitia salah ngitung waktu. Jadi kami cukup punya banyak waktu untuk jalan-jalan lagi sebelum kembali ke GOR.

Rencana awal perjalanannya sebenarnya mau ke arah utara, ke Pantai Lovina melihat lumba-lumba, lalu sambil pulang menuju Bedugul. Akan tetapi dari hasil googling malam sebelumnya, ternyata untuk bisa melihat lumba-lumba, wisatawan perlu menyewa perahu yang biaya per orangnya Rp150 ribu. Itu pun belum ada jaminan lumba-lumbanya bakal muncul. Akibatnya, kami urungkan rencana ke Lovina, agak gak rela ngeluarin setengah juta lebih, dan kemudian memutuskan kembali ke rencana sehari sebelumnya, yaitu melihat sunrise di Sanur, lalu tetap ke Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul, dan dilanjutkan ke Tanah Lot sebelum kembali ke hotel.

  • 05.00 – 06.30: Sunrise di Pantai Sanur

    Untuk melihat sunrise di Sanur, kami bergegas lebih awal dari hotel. Sedikit ke arah tenggara dari hotel kami di Denpasar, jarak ke Sanur tidak terlalu jauh, hanya sekitar 16 km. Ditambah karena perjalanannya persis sehabis shubuh, dalam 15 menit, kami sudah mencapai Pantai Sanur. Tidak ada tiket masuk, hanya ada bayar parkir tiga ribu perak pas keluar.

    Harus diakui, setelah dari Pandawa, kekecewaan sedikit kami rasakan saat menginjakkan kaki di Pantai Sanur. Pasir pantai terasa lebih gelap, banyak kerikil, dan lengket. Laut juga sangat tenang. Mungkin karena faktor subuh juga, sedikit. Saat istri dan anak-anak mengitari pantai, memainkan pasir, dan mengumpulkan kulit kerang, saya menantikan kemunculan matahari, mengamati perubahan warna laut dan langit di atasnya, serta mencuri-curi pandang ke arah nelayan yang sedang menyiapkan perahu dan ke turis-turis yang sedang berfoto-foto atau menyiapkan spot untuk mengambil gambar terbitnya sang surya.

    Pada akhirnya, meski Pantai Sanur tidaklah semenakjubkan Pandawa, momen sunrise di sini tetaplah berharga untuk dinikmati secara perlahan dan khidmat, seperti perlahannya sinar matahari yang muncul di horizon terjauh lautan. Lembayung pagi yang awalnya adalah segurat garis berwarna jingga di antara lautan dan langit, kini makin membesar dan memancarkan terang matahari yang menyilaukan.

    122916_1149_NyetirSendi8.jpg

    Ini adalah momen mengambil foto. Saya mengabadikan banyak foto di sini. Yang paling berkesan adalah foto-foto siluet kami yang tengah membelakangi matahari, lalu lengkung Pantai Sanur yang eksotis saat mengabadikan sosok-sosok orang dari kejauhan. Sayangnya, kehadiran kami di Sanur ini kurang lengkap. Tidak ada siluet si sulung di sini…

  • 09.00 – 10.15: Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul

    Perjalanan kami berikutnya adalah dalam upaya melacak situs pada foto uang rupiah 50 ribuan. Ya, ada foto Pura Ulun Danu Beratan di sana yang selanjutnya akan saya abadikan dengan lebih indah. Pede, ya?

    Dari Sanur atau pun Denpasar, perjalanan ke Bedugul adalah perjalanan ke utara. Jarak Sanur-Danau Beratan hampir mencapai 60 km dan ditempuh dalam waktu hampir 2 jam perjalanan. Seperti perjalanan-perjalanan di Bali lainnya yang keluar dari Denpasar, pemandangan indah kanan kiri jalan selalu menemani kami. Ditambah dengan hawa dingin pegunungan saat kami semakin mendekati kawasan Bedugul, perjalanan ini benar-benar terasa sebagai liburan yang lengkap. Meski demikian, setelah berkendara Jakarta-Bali dan mengunjungi tempat-tempat wisata di Bali, baru di perjalanan ini saya merasakan kantuk yang luar biasa. Anak dan istri, jangan ditanya lagi, dari sejak keluar Sanur, sudah tidak ada lagi yang membuka mata. Gara-gara kebiasaan jelek, mungkin: tidur sehabis shubuh.

    Setelah melepas lelah sekaligus sarapan pagi di daerah Baturiti, Bedugul, akhirnya kami tiba di Pura Ulun Danu Beratan. Kami membayar tiket masuk mobil Rp5 ribu, ditambah tiket masuk pura Rp10 ribu/orang. Saat itu hujan turun, namun di tengah langit yang cerah. Lucunya lagi, hujan turun dan reda bergantian setiap 15-20 menit sekali. Jadi memasuki kawasan pura, payung kami buka-tutup tergantung situasi.

    Kawasan Pura Ulun tidak terlalu besar. Rasanya tak sampai setengah jam kami sudah selesai berkeliling dan foto-foto. Namun walau bagaiamana pun, tempat ini memang spot terbaik untuk mengabadikan foto. Pura di tepi dan tengah danau sangat cantik untuk dilihat. Percaya, kan, kalo sudah melihat foto yang saya ambil ini?122916_1149_NyetirSendi9.jpg

  • 11.50 – 12.40: Pura Tanah Lot, Rajanya Pura Deburan Ombak

    Perjalanan dari Danau Beratan ke Tanah Lot lumayan jauh, hampir mencapai 50 km, sedikit ke arah Barat Daya. Perlu sekitar satu setengah jam perjalanan untuk sampai di sana. Ongkos masuknya hampir setara dengan Uluwatu, mungkin karena sama-sama sebagai ikon utama tempat wisata di Bali. Dewasa dikenai tarif Rp20 ribu/orang, sedangkan anak-anak Rp10 ribu/orang. Panas terik di tengah hari bolong ternyata tidak menyurutkan animo turis, terutama asing, untuk terus berdatangan dan berlama-lama di Tanah Lot. Saya sendiri, yang rada-rada anti panas, walau anti gores, segera melipir ke kedai kelapa muda begitu semua objek pandang sudah terlewati.

    Seperti halnya di Kuta, laut yang sama menghasilkan ombak yang lumayan besar di Tanah Lot. Debur ombak terdengar sangat jelas, apa lagi saat menghantam tebing-tebing batu yang di atasnya telah dibangun pura-pura tempat peribadatan umat Hindu. Begitu menghantam tebing, ombak laut ini bisa mencelat hingga beberapa meter ke udara. Indah buat dilihat, tapi agak ngeri untuk dibayangkan. Jadi jalan keluarnya, ya foto-foto saja, lah.

    Tak berlama-lama di Tanah Lot, kami bergegas untuk pulang ke hotel. Mungkin karena faktor kelelahan, panas, sedikit jemu, dan juga anak-anak yang lebih tertarik untuk segera berenang di kolam renang hotel. Yah, begitulah nasib objek foto yang tidak sekaligus jadi objek aktivitas pengunjungnya. Keseruannya singkat. Coba saja kalo pembatas-pembatas di area tebing dihilangkan dan orang-orang bisa berlompatan ke laut arus deras. Pastinya….. Hmmm. Tiwas.

  • 17.30 – 19.00: Semifinal Turnamen Basket

    Sekembalinya dari Tanah Lot, saya sempat beristirahat di hotel selama dua jam, sementara anak-anak menghabiskan waktu di kolam renang. Saya simply gak bisa menemani. Capek.

    Kembali ke GOR Merpati, saya kembali memainkan peran sebagai live reporter di WA. Pertandingan yang saya liput sekarang adalah semifinal antara IM Jakarta vs Mangupura, Kabupatan Badung. Tepat jam 17.30 pertandingan dimulai. Seperti di game-game sebelumnya, IM terlihat masih terlalu tangguh buat tim-tim di Bali. Margin nilai kedua tim semakin menjauh di setiap pergantian kuarter. Pada akhirnya, IM unggul 48-26 dan lolos ke final.

    Sebelum perjalanan ke Bali ini, saya pikir semifinal dan final akan dilangsungkan di hari yang sama, tanggal 21. Ternyata tidak. Untungnya saya tahu informasi jadwal ini dari sejak tanggal 19. Di hari yang sama, saya langsung membatalkan rencana kami menginap di Malang pada tanggal 22. Masih bisa refund. Apa lagi sekarang sudah jelas, IM main di final di tanggal 22.

HARI V: Kamis, 22 Desember 2016

[Hotel – Toko Krisna, Jl. Tuban – GOR – keluar dari Bali]

Sejak dipastikan masuk final, jadwal final yang semula direncanakan jam 20.00 (malem banget!), dimajukan ke sore jam 16.00. Iya, lah, rombongan tim harus boarding jam 20.35, bagaimana bisa tanding jam 8? Lawan IM di final adalah tuan rumah, Merpati Denpasar, yang sudah ditundukkan sebelumnya di fase group. Berita tentang lawan ini lucunya sempat simpang siur. Bali Post memberikan headline bahwa Gianyar lolos ke final Merpati Cup setelah mengalahkan Merpati di semifinal. Namun kemudian pihak panitia mengkonfirmasi manajer tim IM bahwa berita tersebut keliru. Merpatilah lawan IM di final. Kok bisa, salah berita sampai segitunya, ya?

Kami check out dari hotel sekitar jam 12.40. Kami langsung ke Hotel Aston untuk mengambil barang-barang dan koper bawaan si Dhifie anak saya yang menginap di sana. Rencananya, ia akan ikut pulang bersama kami naik mobil. Tiket pesawat baliknya? Ya hangus…. Hiks. Begitulah kalau rencana jalannya dadakan. Sebelum menonton final, kami juga menyempatkan diri untuk ke toko Krisna di jalan Tuban, membeli oleh-oleh. Lokasinya lebih dekat ketimbang kami ke Krisna atau toko lain di wilayah Sunset Road, Kuta. Oleh-oleh sederhana saja yang kami beli, seperti kacang kapri, kacang disco, brem, pia susu, kain, baju, dan beberapa hiasan.

Kembali ke final. Meski ada error-error di masalah jadwal pertandingan, panitia pertandingan di Bali ini patut diacungi jempol untuk keseriusan dan kreativitasnya. Lapangan pertandingan selalu ramai dengan backsound dan musik berdentum-dentum seperti di pertandingan-pertandingan NBA, meski penonton yang datang sejatinya sedikit sekali. Selalu ada reporter juga yang melaporkan jalannya pertandingan. Di final, sebelum bermain, satu persatu pemain dan manajer tim dipanggil ke tengah lapangan. Indonesia Raya kemudian dikumandangkan dengan khidmat sebelum the Europe masuk dengan hits Final Countdown-nya menjelang tip-off pertandingan. Keren.

122916_1149_NyetirSendi12.jpgPertandingannya sendiri, seperti di babak penyisihan, hanya ketat di kuarter-kuarter awal. Jam tanding yang lebih tinggi dan kualitas bench yang lebih merata di tim IM sulit ditandingi tim tuan rumah. IM menang cukup jauh dengan keunggulan 15 poin: 42-27. Bahkan koran lokal, Radar Bali, di deskripsi fotonya menyebut pertandingan ini sebagai pertandingan ‘Beda Kelas’. Lagu mendiang Freddy Mercury, We are the Champions, kemudian mengumandang di tengah lapangan, menggelegar seperti biasanya, diiringi terbangnya confetti warna-warni ke udara. Para pemain dan orang tua berhamburan masuk lapangan, meluapkan kegembiraan sambil menanti acara pengalungan medali dan penyerahan piala kejuaraan. What a day.

Jadi… ya, gitu. Dhifie dan IM-nya juara. Gak seru, ya, pengumumannya? Biarin, lah. Ditambah dengan wisata memuaskan yang kami dapatkan selama di Bali, maka hasil ini worth the kilometres.

BERSAMBUNG ke Catatan Perjalanan 3-5: Menuju Jakarta


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s